Marchisio Simpati dengan Dybala yang Harus Berkorban Demi Ronaldo

Getty Images

Claudio Marchisio merasa simpati untuk Paulo Dybala, yang terpaksa jalani peran baru di Juventus setelah kedatangan Cristiano Ronaldo.

Setelah sembilan musim bergelimang trofi di Real Madrid, Ronaldo bergabung dengan Juve dan telah buktikan produktivitasnya, mencetak 24 gol dalam 36 penampilan di semua kompetisi.

Sementara produktivitas pemain Portugal itu membuat Juve unggul 15 poin di puncak Serie A dan satu tempat di perempat final Liga Champions, dilain hal Dybala harus berkorban untuknya.

Menjadi pemain andalan pada musim lalu, Dybala mencetak total 26 gol, tetapi sejauh ini musim ini ia baru mencetak sembilan dimana Ia ditempatkan di posisi yang lebih melebar untuk mengakomodasi Ronaldo.

"Paulo memiliki bakat bawaan, sayang sekali melihatnya bermain sejauh itu dari gawang," Marchisio, yang memenangkan tujuh Scudetti berturut-turut dengan Juve sebelum bergabung dengan Zenit tahun lalu, mengatakan kepada Gazzetta dello Sport.

"Saya ingat pertandingan pertamanya dengan Juventus: Supercoppa versus Lazio. Dia datang dan saya berkata, 'Tetap berada di daerah lawan'. Dia mencetak gol".

Adapun Ronaldo, Marchisio memberi penghormatan kepada pemain berusia 34 tahun.

"Dia banyak bekerja, dia mengurus setiap aspek persiapan," tambah Marchisio. "Dia adalah contoh. Dia memiliki tubuh atipikal untuk pemain sepak bola, dia lebih mirip seperti pelari cepat!"

Sementara itu mengenai kepergiannya dari Turin, Marchisio bersikeras tidak ada penyesalan, meskipun merasa ada kesempatan baginya untuk tinggal.

"Petualangan itu sudah berakhir, awalnya jelang bursa transfer tutup saya pikir saya akan tinggal. Tetapi klub memutuskan untuk mengakhiri kontrak, bagi saya itu tidak mudah," katanya. 

"Tapi itu akan menjadi salah untuk tetap, saya tidak akan berhasil satu tahun lagi seperti yang terakhir. Saya berharap untuk lebih banyak peluang, tetapi saya selalu menempatkan klub di depan individu.

"Saya memberi begitu banyak ke Juventus tetapi Juventus juga memberi saya begitu banyak. Saya tidak menyesal. Dalam sepakbola, seperti dalam kehidupan dan cinta, ada begitu banyak cara untuk mengakhiri cerita.

"Pada akhirnya saya menganggap diri saya beruntung atas apa yang saya miliki. Saya kalah di dua final Liga Champions tetapi saya senang telah memenangkan tujuh Scudetti."